Selamat Datang Di LENTERA CERPEN ,semoga cerpen yang ada di blog ini dapat bermanfaat bagi kalian dan SELAMAT MEMBACA
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Cinta. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Agustus 2013

Ikhlas

Terdengar suara tawa, teriakan, bising, gaduh bahkan suara tv yang seolah dibiarkan menyala dengan volume yang besar. Mengganggu tidurku kala itu. Dengan pandangan yang masih kabur dan tubuh yang masih letih ku paksakan diri ini untuk segera bangun dari pulau kapuk. Ku kenakan kacamataku lalu ku matikan kipas angin yang masih berputar dan berdenyit di kamarku. Dengan sempoyongan aku mulai membuka pintu kamarku dan membiarkan kegaduhan yang terdengar itu ku lihat. Ternyata kegaduhan itu berasal dari teman-teman satu kampus sekaligus satu kontrakan denganku. “Eh bangun juga lu.” Saut salah seorang temanku yang bernama Agung begitu melihatku keluar dari kamar. Hari itu aku sedang tak ada kelas dan berniat untuk bermalas-malasan di kontrakan yang ku tinggali bersama teman-temanku ini tapi memang itu sih yang sering ku lakukan hehe. Mungkin memang bukan waktu ku untuk bermalas-malasan hari ini karena aku diajak oleh Agung untuk ke kampus yang ingin menghadiri rapat EO (Event Organizer) di kampusku. Awalnya aku menolak tapi karena bujuk rayunya aku pun mulai mandi dan mengikutinya ke kampus.

Oh iya, aku belum memperkenalkan diriku. Namaku Rio mahasiswa semester 3 di salah satu Universitas di Jakarta. Jurusan kuliah ku adalah Managemen Komunikasi oleh karena itu ada mata kuliah EO yang menjadi mata kuliah wajib untuk jurusan ku. Awalnya niat ku mengikuti Agung untuk menghadiri rapat EO tersebut adalah ingin lebih tau bagaimana mata kuliah itu berjalan. Wajar saja karena saat itu aku belum mengambil mata kuliah tersebut. Di sinilah awal cerita baruku dimulai. Saat aku bertemu dengannya. Seorang gadis yang berhasil mencuri hatiku. Namanya adalah Lita. Bertubuh kecil, berwajah putih, bersuara agak cempreng dan dia juga mengenakan hijab. Aku memang sangat suka melihat gadis yang mengenakan hijab di kepalanya karena buatku itu adalah tanda ketakwaannya pada Tuhan. Dia juga adalah orang yang smart. Dari mana ku tahu? Itu karena selama mengikuti rapat aku selalu memperhatikannya. Dari cara dia berbicara, cara dia mengeluarkan pendapat hingga cara dia memimpin rapat. Seorang perempuan menjabat sebagai ketua dan mampu memimpin jalannya rapat? Aku pikir dia lebih smart dari yang ku lihat saat itu. Ternyata ikut menghadiri rapat temanku ini bukan lah sebuah kesalahan karena aku bisa bertemu dengannya dan di sinilah pertama kali aku mengenalnya.

Tanpa disadari waktu terus berjalan, hari terus berganti dan pertemananku dengan Lita pun terus berlanjut. Hingga saat ini aku sudah memasuki semester 8 dan Lita sudah lulus lebih dulu. Bukan karena dia senior ku tapi karena dia yang menjalani kuliah dengan waktu cukup singkat yaitu 3,5 tahun. Masih terngiang di telingaku bagaimana suaranya saat dia tertawa. Masih terbayang di ingatanku bagaimana senyuman manisnya membuatku bersemangat untuk kuliah. Masih terlintas di benakku bagaimana cara dia berjalan. Semua ingatan itu masih tersusun rapi di dalam memori otakku ini walaupun aku harus bisa menerima kenyataan jika aku tak bisa memilikinya. Sudah hampir 2 tahun lebih aku mengenalnya dan sudah selama itu juga aku memendam rasa padanya. Entah apakah dia menyadarinya atau tidak? Apakah dia tahu jika aku selalu tersiksa ketika harus melihatnya tertawa karena pria lain? Apakah dia tahu jika dialah yang menjadi alasanku untuk rajin kuliah? Hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Masih teringat di benakku saat aku harus mengantarkannya pagi-pagi buta ke stasiun. Kala itu dia meminta kepada teman-temanku untuk mengantarkannya ke stasiun pagi sekali tapi tidak ada yang bisa. Aku pun menawarkan diriku untuk mengantarnya walaupun ku tahu dia tak pernah meminta langsung padaku. Kala itu aku hanya ingin merasakan waktu berdua dengannya walaupun ku tahu dia akan pergi ke Semarang untuk berjumpa dengan kekasihnya. Menikmati soto bersama dengannya sembari menunggu kereta tiba. Hingga mengantarkannya sampai ke depan pintu kereta. Dan aku harus telat masuk kuliah pagi karena harus mengantarkan Lita ke stasiun. Itu semata-mata karena aku menyimpan rasa padanya.
Tapi bagaimanapun aku harus tetap menerima kebenaran jika aku tak pernah bisa memilikinya. Aku harus menerima takdirku karena harus melihatnya bahagia bersama orang lain. Aku harus bisa menahan rasa sakit ini ketika tahu aku bukanlah pria yang beruntung untuk memilikinya. Mungkin ini konsekuensi yang harus ku terima karena aku yang tak pernah berani menyatakan cinta. Ini adalah sesuatu yang kudapat dari apa yang selama ini hanya bisa ku pendam. Sebuah rasa cinta yang sederhana namun menyakitkan ketika cinta itu harus dipendam dalam-dalam selamanya. Tapi ini adalah jalan takdir yang ku pilih sendiri, jalan takdir yang harus ku lalui. Tak pernah luput dari mulutku tiap aku mengucap do’a pada Tuhanku untuk kebahagianmu. Tak pernah lupa aku selalu menyebut namamu di tiap aku meminta perlindungan pada Tuhanku. Ya Tuhan, jika memang ini yang terbaik dari apa yang ku dapat, jika ini memang jalanmu untuk kebahagian ku dan kebahagiaannya dan jika ini adalah jalan yang bisa membuatnya selalu tersenyum maka aku ikhlas ya Tuhan. Aku ikhlas.

========================================================================
Karangan :
  • Rahardian Shandy

Blog :


Facebook :

  • Rahardian Shandy

========================================================================

Bersamamu

“Untung kamu sudah datang, pembukaan lomba bentar lagi mulai tuh.” Pak Sartono – guru agama di SMP 2 Mataram tempat aku sekolah – mengomeliku yang datang tergopoh-gopoh berlari kecil dari gerbang sekolah.
“Maaf pak telat, yang lain sudah datang?”
“Sudah ada Imam sama…”
“Eh kak Fer udah dateng.” Suara Imam memecah ucapan Pak sartono, aku tak mendengar nama siapa tadi yang disebutnya. “ah Imam, ayo dah dimana tempat pembukaannya? Langsung saja kita kesana?.” Aku menarik tangan Imam mengajaknya ke tempat pembukaan. “tunggu Anggun dulu kak.” Imam melepaskan tangannya dari genggaman. “eehh, siapa Anggun?” aku heran.
“Kakak ini tau tim kita gak sih? Kan cerdas cermat dimana-mana bertiga kak.” Imam menunjuk ke arah anak yang sedang duduk di bawah pohon mangga.
“Anggun cepet!” Imam melambaikan tangan kepada anak itu.
“Iya kak tunggu.” Anak itu berdiri dan berlari ke arah kami.
Namanya Anggun, Anggun Aprillia Sani. Ini awal cerita aku mengenalnya. Seorang anak kecil yang cantik, lucu, imut – pipinya tembem kayak bakpao – anak yang ceria dan manis. Kami saat itu mengikuti lomba MFQ – Musabaqoh Fahmil Qur’an, lomba cerdas cermat dalam bidang agama Islam. Kami satu tim. Imam dari kelas 8A: aku, Ferry, Firyal Dhiyaul Haqqi – tak ada unsur kata ‘Ferry’ dalam nama lengkapku, semua bertanya begitu, aku tak tau – dari kelas 9H: dan dia, Anggun dari kelas 7A.
“Maaf kak lama.” Wajah ceria itu tersenyum manis padaku. “oh iya gak apa-apa kok.” Aku balik tersenyum padanya. “ayo kak.” Imam balik menarik tanganku sekarang.

Lomba itu diadakan di SMP 1, lokasinya di sebelah SMP kami. Saat itu kami mendapatkan juara 1. Dan lolos ke tingkat kota.
“Selamat nak.” Pak sartono menyambut kami di luar ruangan.
“Alhamdulillah tadi dapet soal yang gampang karena Anggun yang milih soalnya.” Imam terlihat sumringah setelah keluar dari ruangan lomba.
“Iya tadi sistemnya kita dikasih pilihan soal dalam amplop. Tiap regu ngambil 1 soal. Terus yang ngambil Anggun. Waaahhh memang beruntung banget.” Aku menjelaskannya pada Pak Sartono yang tersenyum melihat kami mendapatkan juara. “Iya bapak sudah tau kok Fer, gak perlu kamu jelasin.” Pak sartono menepuk-nepuk bahuku. Anggun hanya tersenyum. Rupanya dia masih malu dengan kakak-kakak kelasnya. Maklum lah, dia kan masih anak kelas 7. Padahal baru saja kita berada dalam satu tim.

Di tingkat kota, kami mendapatkan juara 3, walaupun Anggun kembali mengambil soal yang gampang, tapi lawannya pintar-pintar semua. Maklum lah mereka dari sekolah Madrasah. Mendapatkan juara 3 membuat Imam sedikit sedih, mungkin dia merasa bersalah karena dia yang menjadi juru bicara tim kami, dia merasa bertanggung jawab, tapi ini kan perlombaan tim, jadi tak ada yang bisa disalahkan, kemenangan adalah kemenangan tim, dan kekalahan juga adalah kekalahan tim. Aku mengungatkan Imam. Anggun juga terlihat masam. Lomba itu selesai sore hari. Kami berfoto-foto dengan tim finalis untuk dimuat di koran Lombok Post. Hari itu terasa panjang. Walau kecewa, kami setidaknya telah melakukan yang terbaik, bagi tim kami, dan bagi sekolah kami.

Setelah hari itu, kehidupan sekolah kembali berjalan seperti biasa. Lomba telah usai, dan kebiasaan sekolah kami adalah mengumumkan hasil lomba-lomba yang diikuti murid-murid setelah upacara hari senin selesai. Kami bertiga maju. Aku bertemu Anggun lagi saat itu. Dia tersenyum manis menyapaku, “Hai kak, lama gak ketemu, hehe.” Pagi itu cerah, dan sapaannya tadi menambah keceriaan di pagi itu.
“Kak Fer!” Imam datang dari arah barisan sebelah selatan.
“Anggun, Imam.” Aku tersenyum pada mereka yang menyapa dengan hangat.
Hari itu kami terlihat hebat di sekolah kami, maju ke depan, disaksikan semua warga sekolah untuk diberikan piala sebagai simbolisasi, karena piala itu akan dipajang di lemari piala sekolah.

Setelah Senin yang membanggakan itu, aku jarang bertemu mereka. Aku juga sibuk persiapan ujian nasional. Aku sudah kelas 9. Saatnya fokus untuk bisa masuk ke SMA impianku, SMA Negeri 1 Mataram. Siapa yang tak mengidam-idamkan SMA itu? Berisi anak-anak terbaik se-pulau Lombok. Anak-anak pilihan. Betapa bangganya mengenakan seragam khas SMA itu. Juga karena kakakku yang sudah lebih dahulu berada disana menjadi lecutan semangatku. Karena selama ini aku selalu mengikuti jejaknya. SD sama, SMP juga, dan SMA harus bisa sama dengannya.

Sebulan berlalu, kembali ke kehidupan normal. Bersama teman-teman sekelas yang gila-gila. Teman sebangkuku yang bernama Adit – dia playboy, sangat playboy, muka sih biasa-biasa aja, standar lah, gantengan juga aku – bercerita-cerita di waktu jam istirahat. Dia cerita kalau dia baru aja mutusin pacar barunya – mutusin pacar baru? Gila ni anak – yang anak kelas 7D, namanya Rina, aku kenal dia. Selama dia pacaran sama si Playboy Adit ini, dia sering curhat sama aku. Secara gitu dia tau kalau aku teman sebangkunya Adit.

Apalagi setelah dia diputusin sama si Adit, Rina jadi temen sms-anku tiap malam. Dia curhat, galau katanya, maklum anak SMP rentan galau. Putusnya dia sama Adit buat saya sama Rina jadi deket – hubungan kakak-adik apa lah namanya – karena aku sudah nganggap dia sebagai adik sendiri. Kasian anak itu, rupanya terlalu cinta sama yang namanya Adit. Dasar playboy.

Aku sering main-main ke kelasnya Rina. Entah kenapa, setelah dekat dengan dia, sepertinya rasa suka’ muncul. Setelah dari kelas 7 sampai kelas 9 semester 1 aku jatuh cinta dengan seorang anak blasteran arab bernama Ismi, sekarang move ke anak kelas 7D ini. Tapi Rina ternyata suka’ sama temenku, temen aku SD, namanya Hadi. Galau, itu tema aku setiap malam – sekali lagi, anak SMP rentan galau.
Hingga suatu hari, aku sama Hadi main-main ke kelasnya Rina. Itu jam istirahat. Melihat Spendu – nama singkat SMP 2 – dari atas lantai 2.
“Hei dek!” itu Anggun, aku menyapanya setelah melihat dia jalan bersama temannya menuju ke arahku.
“Iya kak?” dia tersenyum manis seperti biasa.
“Nnnggg… Boleh minta nomer HP gak?” aku gak tau apa yang ada dipikiranku saat itu, tiba-tiba bisa ngomong to the point gitu. Aku sendiri bingung. Itu kan pertemuan pertama setelah lama gak bertemu dia.
“Boleh kak.” Anggun mengangguk tersenyum malu.
“Di, tulisin dong nomer HP-nya Anggun nih.” Hadi yang memegang Handphone-ku langsung mencatatnya.
“Makasi ya dek.” Aku tersenyum padanya. “iya kak.” Anggun balas senyum. Lalu pergi bersama temannya.

Semenjak aku dan Anggun bertemu kurang lebih sebulan yang lalu di acara MFQ, aku tak tahu nomer HP Anggun, tak pernah terlintas untuk memintanya saat itu. Entah kenapa tadi begitu tiba-tiba, terjadi begitu saja. Perasaan di Rina masih ada, tapi di Anggun ini apa namanya? Lagi-lagi, SMP masa yang rentan galau.

Rupanya si Adit itu telah menemukan pengganti si Rina, langsung, dia kan playboy. Aduh, tak kepikiran aku jadi orang yang kayak dia, kok bisa? Aku juga harus berenti suka’ sama Rina. Harus belajar dari Adit. Di sini banyak kok cewek yang manis, berjilbab, solehah. Jadi sebenarnya gampang lah buat move on. Toh ada Anggun. Aku juga sebenarnya lagi deket sama cewek anak kelas 9F, namanya Ayu. Dia cantik, baik, dan yang paling penting, dia juga suka’ sama aku. Aku curhat sama Ayu tentang Rina, tak tau lah apa yang dia rasain waktu aku curhat ke dia tentang Rina. Tapi Ayu adalah pendengar yang baik. Mungkin hatinya sakit, aku tak tau.

Ada juga cewek yang buat aku tertarik waktu itu, namanya Aini. Anak kelas 9I. Dia awalnya kelas 9G, waktu ada program perluasan kelas, dia dipindah. Tapi perasaan itu hanya rasa suka yang biasa. Karena dia manis, cantik, putih, tembem, berjilbab. Jadi suka’ aja ngeliatnya. Ya, itu tipe cewek aku. Tapi aku tak kenal dengannya. Malu aku berkenalan. Jadi lupakan.

Malam hari terasa sepi. Yang awalnya selalu ditemani Rina, sekarang dia sudah bersama Hadi. Aku teringat dengan Anggun. Kuambil HP. “Assalamu’alaikum. Anggun, gimana kabarnya?” ini sms pertama aku ke Anggun. Maaf, walaupun masa SMP masa yang dibilang Alaayy, tapi aku tak se-alay yang kalian kira. Aku nulis sms biasa aja kok.
“Wa’alaikumsalam, ini siapa ya?” tak lama Anggun menjawab sms itu.
“Ini kak Ferry, masi inget kan?”
“Ooohhh, kak Feeerrryyy, apa kabar kak? Anggun baik-baik aja! :D ” terlihat Anggun begitu senang menerima sms dariku. Bukannya kePD-an. Tapi keliatan kok dari caranya membalas sms. Ceria sekali.
Aku juga cerita semua tentang Rina ke Anggun. Dan dia mengatakan, “Aku ada disini kak, sama kakak, akan aku buat kakak ngelupain Rina.” Jawaban itu buat aku tenang. Senang bisa kenal dengan Anggun. Hari-hari menjadi lebih berwarna sejak kedekatan kami. Aku jadi bisa melupakan Rina, total bisa melupakannya. Aku suka sama Anggun. Aku gak mau kehilangan dia. Aku sudah menganggap seperti adik sendiri. Dia juga demikian, menganggapku seperti kakak kandungnya sendiri.
“Kak kita buat janji yuk?” Anggun mendengarkan sebuah lagu kepadaku. “Ini lagu kita kak.” Anggun tersenyum. Aku terdiam. Mendengarkan lagu itu. “Kakak janji ya bakalan selalu ada, ngejaga Anggun, janji ya” Anggun mengulurkan jari kelingkingnya tanda kesepakatan. “iya kakak janji dek.” Dia tersenyum lebar mendengarnya.
Janji itu masi teringat sampai saat ini. Setiap mendengar lagu itu, aku mengingat Anggun. Mengingat uluran jari kelingkingnya yang meminta kesepakatan.

Aku mendapatkan impianku, mendapatkan SMA 1 Mataram. Yang artinya aku harus pisah dengan Anggun. Tiga bulan masa kedekatan di bangku SMP dengan Anggun. Dan kini aku memulai dunia baru. Dunia SMA. Walaupun sudah berada di bangku SMA, hubungan aku dengannya lancar-lancar saja, komunikasi tak pernah putus. Bahkan kami sesekali pergi jalan-jalan berdua.

Dua bulan berlalu terjadi lost contact di antara kami. Entah kenapa aku berpikir ada yang berubah dari Anggun. Aku tak tahu apa penyebabnya. Hingga saat itu.
“Kak, Anggun capek, sakit hati sama seorang cowok.” Sms itu masuk ke HP-ku.
“Kenapa dek? Siapa?”
“Anggun mau pindah sekolah aja, Anggun mau ke Jakarta. Pindah ke sana.” Aku terkejut membaca sms itu. Tanpa menjawab sms itu aku menuju rumah Anggun untuk mencari kejelasannya langsung.
“Assalamu’alaikum, Anggun.” Lama menunggu pintu itu terbuka. “wa’alaikumsalam” itu bukan Anggun, itu Faras, kakaknya. Aku tau Faras tak setuju aku dekat dengan Anggun. Karena dia sahabatnya Ayu – kelas 9F juga, jadi dia menganggap aku akan mempermainkan adeknya. Raut wajahnya tak bersahabat, tapi dia berbaik hati memanggilkan Anggun untukku. “Anggun, ada Ferry tuh!”
Malam itu aku mendapatkan kejelasan yang membuatku terkejut. “Kak, Anggun capek nunggu.” Aku heran. “Anggun pengen denger kalimat itu dari kakak.” Tunggu dulu, aku semakin bertanya-tanya. Ini ada apa sebenarnya? “Ada apa dek?”, “Anggun suka sama kakak, Anggun mau jadi pacar kakak, Anggun mau denger kakak bilang cinta ke Anggun.” Aku terperanjat. Bagaimana tidak, seumur-umur baru Anggun yang mengungkapkan perasaannya langsung ke aku. Aku terdiam. Aku menatap matanya yang berkaca-kaca. Alisnya mengkerut. “Terus jadi mau pindah ke Jakarta? Cuma gara-gara itu?” aku berusaha tersenyum seolah mengajaknya ikut tersenyum juga. Kepalanya tertunduk dalam diam. “Dek, kakak gak mau pacaran sama Anggun, Anggun sudah kakak anggap sebagai adik kakak sendiri. Iya kakak suka juga sama Anggun, kakak akui itu, tapi kakak gak mau pacaran sama Anggun. Gak bisa dek. Maaf.” Anggun semakin terdiam. Dia mengangkat wajahnya. Dia tersenyum, meski air mata jatuh di pipinya. Itu senyum terakhir yang aku lihat. “Kakak pamit dek. Maaf ya.” Aku tak tau bagaimana perasaan Anggun waktu itu, yang jelas pasti sakit.
“Dek jangan nangis.” Aku berusaha tersenyum padanya. Dia membalas senyumku. Ya Allah apa yang aku perbuat malam ini. Malam terlihat gelap – meski umumnya malam memang gelap – tapi malam itu terasa lebih gelap dibanding biasanya. Aku pamit ke Anggun. Di tengah jalan terbayang terus senyum manisnya tadi. Apa aku menyesal? Sepertinya tidak. Jalanan itu terasa panjang dan lenggang.

Setelah kejadian itu, aku kembali lost contact dengannya. Sebulan berlalu dan aku mendengar kabar bahwa dia kini berpacaran, dengan seorang yang non-muslim. Saat itu aku benar-benar menyesal. Aku merasa tak sanggup menjaga adik sendiri, tak sanggup menjaganya. Kemana janji itu? Apa aku melanggarnya? Atau Anggun yang membuatku untuk melanggar janji itu?

Satu semester sudah berlalu. “Fer, ada kabar bagus.” Naufal – sahabat baikku – memanggil sambil menunjukkan sms yang ada di HP-nya. Aku cerita semua tentang Anggun padanya. Dia sahabat yang baik. Dari keluarga seorang hakim dan dokter. Tanpa semua sadari – termasuk dia – aku dan Naufal jatuh cinta dengan perempuan yang sama saat itu, teman sekelas kami. Perempuan yang familiar, tak asing bagiku. Tapi aku tak mau membahasnya disini. “Ada apa fal?” aku penasaran. “Anggun mau balik ke kamu katanya!” Balik? Aku heran. “Iya dia mau minta maaf ke kamu. Katanya dia ngerasa kehilangan kakaknya. Berita bagus bro!” tak kepalang tanggung senangnya aku saat itu. Itu adalah titik balik hubungan aku dengannya nyambung lagi.
“Kak, maaf ya, Anggun kehilangan kakak. Kakak masi inget kan sama janji kita? Terus terang Anggun sakit hati malam itu, mangkanya berpikir pendek dan mau pergi dari kakak. Anggun bohong bilang mau pindah ke jakarta, karena emang gak tahan.” Panjang lebar sms Anggun itu. Aku senang dia akhirnya mengerti. “Iya dek, gak apa-apa kok, kakak juga minta maaf ya.”

Sudah 3 tahun kedekatanku dengan Anggun tanpa ada perselisihan apapun. Hubungan yang adem-ayem. Kini aku berada di bangku kuliah. Masuk di Unram Fakultas MIPA jurusan Fisika. Anggun yang berusaha ingin masuk ke SMA 1 harus gagal dengan usahanya. Dia memang sedih. Tapi bukan Anggun namanya kalau larut dalam kesedihan. Dia sekarang di SMA 2 – Smanda, duduk di kelas 11. Sudah lama hubungan kakak-adik ini berjalan. Teman, hubungan adik-kakak ini cuma ada di Indonesia, tak tau lah seperti apa itu hubungan kakak-adik, tapi seperti inilah yang aku jalani dengan Anggun. Kalian yang ada di Indonesia pasti pernah mengalaminya juga.

Kemarin malam aku menelepon Anggun. Dia berceloteh, bercerita tentang masa SMA-nya di Smanda. Aku kangen mendengar suaranya, mendengar keceriaannya. Senang sekali bisa mendengar suara ribut itu. Ahahaha.. Tak terasa hidup ini berjalan begitu cepat. Anggun sudah memiliki dunianya bersama sahabat-sahabatnya. Janji itu tetap ada, dan tetap kami ingat. Malam itu terasa panjang, curhat-curhatan, ketawa bareng, saling olok-olokan. Walaupun hanya lewat telepon, tapi hangatnya terasa. Keceriaan Anggun yang dulu aku kenal sangat terlihat.
“Dek, tunggu dulu, coba denger deh.” Samar terdengar sebuah lagu terputar di radio yang berdiri di atas meja belajar krem di samping kasur. “Ini lagu kita.”

Memandang wajahmu cerah
Membuatku tersenyum senang
Indah dunia

Tentu saja kita pernah
Mengalami perbedaan
Kita lalui
Tapi aku merasa jatuh terlalu dalam
Cintamu…
Ku tak akan berubah
Ku tak ingi kau pergi
Slamanya
ku kan setia menjagamu
bersama dirimu,dirimu
sampai nanti akan slalu
bersama dirimu
Saat bersamamu kasih
Ku merasa bahagia
Dalam pelukmu
Ku tak akan berubah
Ku tak ingin kau pergi
Slamanya…
seperti yang kau katakan
kau akan slalu ada
menjaga, memeluk diriku
dengan cintamu

Teringat kembali janji itu, saat-saat itu, masa-masa kedekatan aku dengan Anggun di SMP dulu. Anggun, justru karena aku suka sama kamu mangkanya aku gak ingin berpacaran denganmu. Karena aku tak ingin berpisah denganmu mangkanya aku menolak malam itu. Kita masih SMP saat itu, masa paling labil di dunia. Masa yang rentan galau dan belum dewasa. Anak-anak SMP itu berpikiran pendek. Tak kan ada hubungan pacaran yang akan bertahan lama. Tak ada. Pasangan yang berpacaran, jika sudah putus, pasti ujung-ujungnya bermusuhan, gak saling sapaan, terus pisah deh. Tak ada kelanjutannya. Karena itu aku gak mau pacaran sama Anggun. Karena aku gak mau kehilangan dia.

Jika kamu menyukai seseorang, tak mesti mengaplikasikannya dengan sebuah hubungan pacaran. Simpanlah jika itu memang yang terbaik bagimu, kelak ungkapkan perasaan itu melalui janji suci jika sudah datang waktu yang tepat.

========================================================================
Karangan :

  • Firyal D. Haqqi

Facebook :

  • Firyal Dhiyaul Haqqi

========================================================================

Minggu, 04 Agustus 2013

Luka

Suara burung itu mengagetkanku. Entah sudah berapa lama aku duduk di tempat ini. Saat ku lihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Sudah pukul 10 batinku. Cukup lama juga aku duduk di pelataran masjid sekolahku ini.
Entah kenapa ku langkahkan kakiku ke tempat ini. Mungkin karena tidak ada kegiatan lain yang harus ku lakukan. Sekolahku sedang sibuk mengadakan lomba untuk mengisi waktu setelah ulangan. Dan ini saat yang tepat untukku menyendiri. Beranda masjid ini adalah tempat yang menyenangkan. Aku bisa terhindar dari celotehan teman-temanku yang kadang-kadang ngawur. Tempat ini begitu tenang. Membuat pikiranku yang kusut kembali jernih.

Ku lihat di sekitar masjid, banyak siswa-siswa lain yang duduk sepertiku. Tetapi kebanyakan mereka bergerombol dengan teman-temannya. Hanya untuk sekedar menepis sepi yang di rasa. Mungkin saja sama seperti kesepian yang ku rasakan.
Beberapa pasang mata menoleh ke arahku. Mungkin mereka heran, kenapa aku berada di tempat ini sendirian. Mungkin itu juga yang menjadi pertanyaanku. Kenapa di tempat ini aku merasa sendirian? Padahal aku salah. Seharusnya aku menyadari kalau Tuhan masih bersamaku. Kesepian yang sekarang ini ku rasakan, tiada artinya jika aku menyadari kalau Tuhan bersamaku.

Aku menatap pohon akasia yang ada di seberang pelataran masjid. Pohon itu semakin meranggas karena matahari bulan Juni yang terik. Daun-daunnya yang ditiup angin, seakan menyampaikan lagu kesedihan tentang kesendiriannya.
Kemudian tatapan kosongku kembali menatap sekumpulan siswa yang berada beberapa meter di depanku. Ada rasa sedih yang menyeruak dadaku ketika melihat mereka. Kesedihan yang menenggelamkanku dalam ruang yang tak ku mengerti. Aku mencoba menepis semua gundah ini.

Sekarang aku mulai menyadari apa yang sebenarnya terjadi padaku. Aku sadar, ada sekelumit rasa yang membuncah dalam hatiku. Rasa yang kian menggangguku. Belum pernah lagi ku rasakan hal ini. Sejak aku ditinggalkan pergi oleh seorang laki-laki. Yang kalau boleh jujur, laki-laki yang sangat aku cintai. Sejak saat itu aku takut berkelana di alam nyata. Aku takut, aku akan semakin tenggelam dalam kepedihan.

Matahari semakin terik. Aku sudah tak ingat berapa lama aku di tempat ini. Hatiku bertanya, kenapa dia belum muncul juga? Biasanya di saat seperti ini, dia selalu pergi ke masjid. Entah untuk apa. Yang pasti senyumnya sudah menggugah hatiku.
Tapi, sampai saat ini dia belum kelihatan. Kemana dia? Tanyaku dalam hati. Hari ini aku hanya ingin melihat senyumnya. Dan aku ingin menyampaikan isi hatiku padanya. Walaupun dia pikir aku seperti orang gila, aku tidak peduli. Aku hanya ingin dia tahu apa yang aku rasakan.

Aku semakin lelah, menunggu ketidakpastian ini. Akankah takdir berpihak padaku? Ku coba mengisi waktuku dengan membaca novel yang ku pinjam dari temanku. Tapi, itu tidak bisa mengalihkan pikiranku tentang dia. Sosok yang betul-betul mengubah duniaku. Ya Tuhan, kenapa waktu begitu lambat berjalan? Padahal aku sudah lama menunggunya. Aku bertekad, hari ini akan ku tuntaskan semuanya. Semua rasa yang begitu menggangguku.
Ku lirik arlojiku sekali lagi. Sudah menunjukkan pukul 12 siang. Matahari tepat berada di atas kepalaku. Perutku semakin lapar. Aku takut jika aku pergi, aku tidak bisa bertemu dia lagi. Kenapa aku jadi seperti ini? Sadar Din, di dunia ini tidak ada pangeran berkuda seperti impianmu.

Aku mondar-mandir untuk sekedar melepas penat yang menghampiri. Kenapa dia belum datang juga? Aku sudah menunggunya dari tadi pagi. Tapi, kenapa sampai sekarang dia tidak datang? Apa mungkin, dia tidak ke masjid hari ini?
Tiba-tiba angin putus asa kembali menerpa hatiku. Sejak kapan aku menjadi putus asa seperti ini? Hanya karena satu hal. Cinta, yang bagIku kata-kata itu sangat sulit untuk dapat ku miliki. Aku mencoba bersabar. Tunggu satu jam lagi. Kalau dia tidak datang, lebih baik aku akhiri semuanya. Ku mainkan jemariku. Ku hempaskan diri yang lelah ini ke lantai masjid. Walaupun hatiku gelisah, ku coba untuk tenang.

Terdengar suara azan sayup-sayup berkumandang. Ku lihat beberapa siswa yang tak ku kenal memasuki rumah Allah ini. Dan aku, tentu saja aku juga masuk. Setelah berwudhu, aku bersiap untuk shalat berjamaah.
Di dalam doaku setelah shalat. Aku hanya meminta yang terbaik untukku. Aku hanya ingin semuanya jelas, karena penantian ini tidak menyenangkan. Hatiku pedih menahan keharuan. Kalaupun nantinya aku tidak bisa bersama dia, mungkin memang itu yang terbaik untukku. Aku berharap agar dia selalu bahagia.

Setelah shalat, aku kembali ke pelataran masjid. Alhamdulillah, sekarang pikiranku sudah tenang. Mungkin berkat shalat Zuhur yang sudah ku laksanakan.
Tidak berapa lama, orang yang aku nanti pun datang. Aku berusaha untuk tersenyum padanya. Tapi dia sama sekali tidak menoleh kepadaku. Dia bersama teman-temannya sehingga aku pun mau tidak mau harus menunda keinginanku untuk berbicara kepadanya.

Tanpa sengaja mataku tertuju pada selembar kertas yang terjatuh di tanah. Sepertinya itu milik Ari. Ku langkahkan kakiku untuk mengambilnya dan ternyata itu adalah sebuah surat. KU buka sampulnya dan aku mulai membaca huruf demi huruf yang tertera.

DEAR NIDA APRILIANI
Mungkin bagimu, aku teralu lancang. Tapi, aku hanya ingin mengatakan semua ini padamu. Maafkan aku jika kata-kataku menyinggung perasaanmu.
Sejak pertama kali melihatmu, ada rasa yang menyeruak dalam dadaku. Entah apa itu. Saat itu aku tidak peduli. Tapi, seiring waktu aku mulai merasakan kalau rasa itu kian menjadi. Dan, sekarang aku ingin menyatakan semuanya padamu.
Maukah kamu menjadi kekasihku? Orang yang selalu ada untukku, yang mencintaiku seperti aku yang mencintaimu. Aku tunggu jawabanmu, Nida. Aku janji, aku akan selalu mencintaimu.

With Love
ARI R. KUSUMA

Ya Tuhan, apa yang terjadi? Surat ini, surat ini sudah cukup menjawab semua penantianku. Apakah semua ini nyata? Ternyata orang yang dia cintai bukan aku. Titik-titik bening itu pun jatuh. Aku merasa bumi yang ku pijak sudah tak ada lagi. Aku tidak lagi merasakan semilir angin. Semua sudah jelas sekarang.
Tiba-tiba mataku tertuju kepada sesosok wanita yang ku kenal, Nida. Dan di sampingnya, di samping wanita itu adalah Aldi, laki-laki yang mulai aku cintai. Laki-laki yang ku harap bisa menjadi pangeranku.

Sekarang semuanya sudah musnah. Semua ini lebih dari cukup untukku. Air mata yang sedari tadi membasahi pipiku, semakin mengucur deras. Dunia mulai tidak bersahabat untukku. Dan, sekarang titik-titik hujan bercampur dengan air mataku. Ku biarkan hujan membasahi diriku. Membuat luka dalam hatiku menjadi semakin menganga. Aku tidak tahu, kenapa hujan turun sekarang? Apakah alam ikut menangis bersamaku? Aku sadar, semuanya sudah musnah. Mimpiku sudah pergi tak bersisa. Hanya tinggalkan luka yang menggores hatiku.
Sayup-sayup di antara suara hujan, ku dengar lagu Luka dari Angkasa.

Mestinya ku tak harus mengenal dirimu
Mestinya ku tak harus mencintai dirimu
Sakit yang ku rasakan takkan pernah hilang
Cinta yang kau berikan bukanlah untukku

========================================================================
Karangan :
  • Rahmi Pratiwi 
Facebook :
  • Rahmi Chelsea Ayumi Aprilia
========================================================================

Sabtu, 03 Agustus 2013

Pelukan Terakhir

“buat hari ini, aku seneng bisa pergi bareng kamu, bareng mereka juga” melihat sepasang kekasih asik tiduran diatas pasir.
“sama-sama. emm ding?”
“iya,”
“kita bikin perjanjian yu?” usulnya
“perjanjian? perjanjain apa?” tanyaku
“aku tau kita enggak mungkin bareng-bareng buat saat ini, dan aku tau dia masih ngarepin kamu, dan aku enggak mungkin kaya gini terus, masih banyak waktu buat kita jalanin semuanya, aku enggak mau kalau kamu terus menderita untuk semua ini. Aku harap kita temukan yang lain, jika aku merasa cukup untuk mencari dan masih tidak menemukannya, aku yakin kamu adalah orang terahir untukku. Janji?” jelasnya
“aku memang lagi deket sih, tapi aku belum yakin sama dia. Aku tau ini akan menjadi berat, tapi aku janji sama kamu, karena aku ingin selalu bersama ” sambil tersenyum

Dari kejadian hari itu aku selalu ingat janji kita. tapi masalah mulai datang saat mantanku tau soal kita! dan akhirnya sahabat dan teman dekatku tau soal ini. seperti petir di siang hari semua terasa perih dan menyakitkan. aku tak bisa jalani ini tanpa dukungan dari dia.

Hari terasa berjalan sangat sangat lambat, kita masih komunikasi meski jarang tapi ini semua sudah biasa, aku selalu takut di saat dia bareng anak-anak terutama bareng mantanku, aku takut dia ceroboh dan membuat masalah itu muncul lagi. Beberapa bulan kemudian dia datang ke rumah dan seperti biasa kita ngobrol dan bercanda.
“aku mau bisikin sesuatu sama kamu”
“bisikin apa? engga mau ah,” candaku
“sini aku bisikin bentar,”
“engga mau, kamu pasti becanda”
“engga, sini deh!”
“kamu mau engga nikah sama aku?”
“hah? serius?” dengan nada terkejut dan sedikit meledek
“serius, aku mau kita nikah aja, biar aku bisa bareng kamu terus” sambil tertawa malu
“hehe, engga mau ah. kamu engga serius?”
“serius tau ih, tapi sekarang aku belum punya apa-apa, nanti aku bakalan sukses kok apalagi ada kamu” dengan senyumnya yang buat mata dia berbentuk huruf N he
“amien,” seneng banget dia bilang gitu, aku pengen jawab mau bangeettt?
“engga ada cincin yah?” dia senyum sambil pegang tangan aku, dan aku balas senyum dia.
Tiba-tiba dia nyuruh aku balik badan, dia lepasin kalung yang dia pake dan dia pakaikan di leherku. Aku deg-degan banget aku kira dia mau ngapain, seneng banget saat dia pakaikan kalung itu, aku Tanya kalau ibu nanyain kalung ini dia jawab apa? dia bilang tenang aja semua bisa diatur dan kembali tersenyum. pengen rasanya loncat-loncat dan teriak saking senengnya? Dia bilang cuma ini yang dia punya dan ini harus selalu aku pakai! pastinya aku akan selalu pakai kalung ini

Suatu hari, kampus ngadain turnamen futsal antar angkatan, waktu itu pertandingan antara angkatan ku lawan angkatan bawah. aku turun tangga mau ke lapang aku lihat dia lagi maen sama anak kecil, aku kira anak kecil itu anaknya bang riky alumni (dengan nama samara), tenyata anak kecil itu keponakan mantannya. kalau lihat dia bareng mantannya yang itu aku engga suka, aku pengen banget pulang tapi aku bertahan sampai ahir dan sebisa mungkin engga memperlihatkan kalau aku marah dengan main bareng keponakannya itu.

Pertandingan usai dan angkatan kitapun menang dengan skor yang memuaskan, tapi tidak dengan hati aku semakin menyayat dan semakin sesak saat lihat mereka bersama seperti keluarga ayah, ibu dan anak! rasanya ingin lari berteriak dan menangis!

Dari kejadian itu aku sakit, aku engga ngampus dan dia baru sadar kalau aku sakit malem-malem dia ke rumah buat mastiin aku engga apa-apa karena sms dari dia aku engga bales dan sms semua orangpun aku engga bales. pengen banget bilang ke dia kalau aku engga suka lihat dia kaya kemaren dan aku kecewa banget! tapi ada mamah aku malu..

Dia jelasin semua soal kemarin dia bareng mantannya. semua kembali seperti semula meski kita engga banyak bareng-bareng tapi dia masih suka maen ke rumah. hari itu aku kangen dia pake banget malahan, dan tiba-tiba dia datang ke rumah tanpa bilang dulu awalnya, penampilannya berbeda dari biasa dia terlihat rapih sangat-sangat rapih dan terlihat lebih bercahaya?

Kita ngobrol, bercanda seperti biasa, dan menghabiskan malam bersama, rasanya enggak pengen dia pulang, sebelum dia pulang tiba-tiba dia peluk aku erat banget, aku becandain dia aja.
“ding, aku sayang banget sama kamu. Maaf dan makasih” ucapnya
“ngomong apa sih? aku juga sayang kamu anyunn.”
Dia peluk aku lagi, aku hanya diam dan tak merasa ada yang aneh dengan sikap dan kata-katanya. Waktu sudah menunjukan jam 23.00 malam dia pamit pulang, cara dia jalan tuh beda tapi dia tetap ceria dan sempat becanda sebelum pulang. Dia parkirin motor sebelum pulang dia cium kening dan peluk aku lagi, pelukan itu terasa sangat hagat dan aku tidak ingin melepaskan pelukannya, ini yang buat aku aneh karena dia engga pernah lakuin ini sebelumnya.

Diapun pergi… Pintu gerbang belum aku gembok terdengar suara benturan benda yang sangat keras, aku langsung ingat dia dan berlari menuju jalan raya. Aku jalan perlahan memastikan bahwa itu bukan dia, saat melihat motor yang diparkir oleh bapak-bapak dan itu ternyata motor dia mulailah air mata keluar.
Perlahan aku dekati kerumunan itu dan aku terhentak saat melihat tubuhnya tergeletak di jalan dengan darah di sekujur tubuhnya. tidak banyak berkata aku hanya terdiam dan menangis?

Sudah tiga hari dia dirawat dan masih belum sadar juga, aku terus temenin dia tapi saat anak-anak besuk aku sembunyi, aku engga mau mereka liat aku dan berpikiran yang aneh-aneh soal kita.
Mamah engga marah soal ini, mamah tau dan ngertiin perasaan aku gimana, hapir semua waktuku aku habiskan menemaninya di rumah sakit, keluarganya ada disana, aku malu tapi rasa malu itu hilang karena kekhawatiranku lebih besar.

Akhirnya dia sadar semua menangis bahagia terutama ibu, dia tidak banyak bicara hanya melihat sekeliling. tak lama dia menanyakan surat yang ada di saku jaket yang dulu dipakai dan memberikannya kepadaku.
“ini surat buat kamu, maafin aku yah aku engga bisa tepatin janji aku, aku sering buat kamu marah, buat kamu sakit hati sering juga buat kamu nangis. Aku sayang kamu ding”
“kamu enggak boleh bilang gitu, kamu udah janjikan! aku tau kamu pasti bisa nepatin janji kamu.”
“ibu, kaka minta maaf selama ini kaka sering buat ibu kesel, nyusahin ibu, selalu buat ibu khawatir. kaka sayang banget sama ibu.”
“kamu jangan banyak bicara dulu kamu baru sadar harus banyak istirahat, ibu juga sayang kamu nak.!” Mengusap dan mencium kening
“iya bu, kaka juga mau istirahat ko.” memejamkan mata, dan itu adalah kata-kata terakhir sebelum dia menghembuskan nafas terahir, semua menangis haru terlebih aku dan ibu, aku mencoba tegar dan kuat menerima semua ini.

Setahun berlalu setelah kepergian dia, enggak ada lagi yang bangunin tiap pagi dan nyuruh solat “bagun, solat cantik”, pangilan sayang dia “oding” dan enggak ada lagi yang ngucapin kata sebelum aku tidur “Gnight oding, nice dreams” dan enggak ada lagi yang nyanyiin lagu, ceritain cerita kalau aku susah tidur? aku selalu mengunjungi makamnya tiap kali aku ingat dan aku kangen dia.

Kita enggak tau apa yang akan terjadi pada kita saat ini atau nanti. Semua sudah Tuhan atur, dan ini jalan yang Tuhan kasih buat kita. Cinta memang tak selama harus memiliki dan tak selamanya harus bersama. Tapi aku cinta kamu selamanya, kita pasti akan bertemu di kemudian hari.
Idam aku kangen kamu, kangen becandaan kamu, aku kangen semua yang sering kita lakukan? Saranghae Idam :*

========================================================================
Karangan :
  • Agistyaneu P Oskar

Blog :

========================================================================

Linangan Air Mata

Tersenyumlah. Menangislah. Ketika tangan ini tak lagi bisa menggenggam tanganmu. Aku tahu kau marah, bingung, sedih. Tidak. Kau tak usah marah, bingung, sedih. Kau harusnya bahagia. Relakan aku pergi atas nama cinta. Aku mencintaimu tapi keadaan yang tak mencintai kita. Aku menyayangimu tapi di sekeliling tak menyayangi kita. Kita tidak bisa bersatu seperti apa yang kita impi-impikan selama ini. Kita tidak bisa bersama lagi. Berat. Memang berat. Anggap ini pelajaran hati yang bisa kuatkan diri. Menangislah, saat hati sudah tak bisa berkata sampai air mata yang berlinang mewakili kata. Selamat tinggal masa lalu.

Berat rasanya mengakhiri hubungan yang sudah kita jalani selama dua tahun. Suka dan duka sudah kita lewati. Termasuk duka. Duka yang selama ini kita jalani. Berjuang untuk mempertahankan hubungan ini. Walau di sekeliling kita, di sekitar kita tak juga ada setitik cahaya di hatinya untuk menerima kita bersama. Kuharap jika kau sempat kembali ke sini, aku sangat-sangat ingin memelukmu untuk yang terakhir kalinya. Aku rindu. Rindu dipelukmu. Sudah lima bulan kepergianmu, tapi aku sudah putuskan untuk menyudahi hubungan ini. Percuma. Sungguh percuma. Apalagi keberadaanmu tak lagi dekat.

Oh ya. Aku masih menyimpan semua barang tentangmu, tentang kenangan kita yang selama ini menemani hari-hariku. Aku masih memakai jam tangan PUMA pemberianmu. Saat aku melihat jam itu, aku langsung teringat tentangmu. Kalau kamu? Apakah kau masih menyimpan lukisan itu? Lukisan yang waktu itu aku lukis di anjungan pantai Losari. Kuharap kau masih menyimpannya. Kau berkata saat itu bahwa lukisan yang kulukis tentang senja yang sangat indah di pantai itu, saat kau duduk dengan baju pink kesukaanmu dengan rok selutut bermotif bunga warna-warni itu adalah lukisan yang paling indah sedunia. Kau ingat saat itu? Tentu saja kau mengingatnya, karena waktu itu aku melukismu saat senja muncul di langit pantai Losari.

Apakah kau menangis? Maafkan aku. Aku sendiri menangis menulis pesan ini. Aku cengeng yah? Saat senja menyapa, aku menangis. Tentang kenangan kita saat senja. Aku tak tahu sudah berapa kali kita melihat senja bersama. Senja yang waktunya sekilat pesawat saat lepas landas. Mungkin senja itu singkat karena senja itu berharga dan indah sekali. Maka dari itu untuk yang berharga kita harus mengejarnya. Dan kau masih ingat tentang senja yang PHP?. Waktu itu kita menunggu senja tapi tak kunjung datang. Kita berdua menunggu sampai kehujanan, sampai malam tiba. Senja pemberi harapan palsu ketika itu. Gila kan? Sudah tahu mendung, tapi kau ingin sekali ke pantai melihat senja. Tapi aku mengerti karena kau sangat mencintai senja.

Tentang senja terakhir kita di pantai Akarena sebelum kau memutuskan untuk kuliah di Bandung. Saat itu senja terakhir kita yang penuh dengan tangis. Tentang hubungan kita yang tak direstui. Ketika itu aku melepasmu dengan pelukan. Maaf, aku menangis lagi. Cinta ini sulit kulepaskan. Tapi inilah yang sebaiknya. Baik-baik di sana. Semoga kau bahagia. Mungkin ini pesan terakhirku. Hey. Jangan menangis…

Salam rindu putri cantik....

Suara pedagang asongan yang menyodorkan Tissue ke Kila menyadarkan lamunannya saat setelah membaca E-mail dari Kesa. Namun Kila menolak Tissue tersebut. Linangan air matanya sudah tak terhitung saat membaca E-mail dari Kesa. Seorang lelaki yang sangat ia cinta dan banggakan telah mengiris-iris hatinya yang sedang mekar-mekarnya ingin cepat kembali dan bertemu Kesa di Makassar. Hati yang sudah tertutup oleh laki-laki lain. Hati yang sudah terisi oleh mutiara cerah kini hancur hilang sendiri karenanya. Semua hilang, hilang ditiup angin yang mewakili pesannya. Linangan air mata terus melewati pipinya yang cerah lembab. Linangan yang mewakili kata, mulut yang sudah sedari tadi gumam, kini segumam-gumamnya.

Di halte depan kampusnya dia masih saja meratapinya. Masih saja berlinang air mata. Masih saja diam dan tak berkata-kata. Hancur. Hancur kini hatinya. Absurd, tidak percaya Kesa mengakhiri hubungannya yang sudah lama dia pertahankan dengan susah payah, kini berhembus melebur dengan cepat. Kini dia berdiri, berjalan, masih dengan linangan air matanya. Berjalan tanpa terbeliak sama sekali dengan suara di sekitar yang begitu nyaring. Berjalan sampai tiba saatnya dia tertabrak oleh mobil beroda enam. Kini dia hanya bisa menunggu penjelasan Kesa di dunia lain. Berharap bertemu dan bisa memeluknya lagi.

========================================================================
Karangan :
  • Azhar Hamzah

Blog :

Facebook :
  • Azhar Hamzah

Twitter :
  • @azharaza
========================================================================

Tasbih Cinta

Tasbihku..
Engkau salah satu benda yang sangat berarti di hidupku
Engkau yang selalu menemaniku di saat aku merenung,
Di saat aku sedang bersedih, di saat aku kesusahan,
Di saat aku senang, dan di saat aku menjalani hari hariku di dunia.

Puisi tasbihku selalu ku baca dan tasbih itu selalu berada di genggaman tangan ku, meski sekarang orang yang aku sayang (orang yang menulis puisi tasbihku) telah tiada dan meninggalkanku untuk selamanya.. Tapi kenangan indah sewaktu bersamanya tak akan pernah aku lupakan untuk selamanya, meski ia hanyalah pacar masa laluku, namun dia tetap menjadi yang pertama di hatiku. Karena dia aku bisa mengenal agama lebih baik, karena dia aku bisa merasakan indahnya cinta kasih yang tulus dari hati dan karena dia juga aku bisa lebih kuat menghadapi cobaan yang terus datang kepadaku.
Aku tau dia bukan tuhan, aku tau dia bukan rosul, dan aku tau dia juga bukan malaikat. Tapi bagiku dia adalah malaikat duniaku…

Dia smart, rajin, beriman, baik dan sayang dengan setiap orang yang dekat dengan nya, meski kadangkala orang itu sering menyakiti hatinya.
Aku beruntung telah dekat dengannya meski belum seutuhnya menjadi miliknya, tapi harus berbuat apa kita? Jika allah telah berkehendak untuk memanggilnya kembali ke tempat asalnya. Dan aku hanya berfikir bahmwa allah terlalu sayang kepadanya, sehingga dia terlalu cepat dipanggil ke pelukan allah.

Meski dia telah tiada, tetapi cinta dan kasih sayangnya kepada semua orang yang telah dikenalnya tidak akan pernah terlupakan. Dan ia sudah menjadi panutan atau remaja inspiratif untuk kalangan remaja masa kini.
Dan seharusnya, aku adalah orang yang paling patut berbangga hati karena telah diberi amanah olehnya untuk menjaga tasbih kesayangan nya, tasbih yang dibeli di arab dengan memakai uang hasil kerjanya pertama kali.

Dia bisa berhizrah ke arab dan bersekolah di universitas al-azhar karena mendapat beasiswa, dia adalah anak tunggal, dan orang tuanya sangat sederhana sekali. Maka dari itu dari kecil dia sudah membantu bekerja ayahnya yang hanya menjadi pedagang bakso keliling.

Dia selalu pintar mengatur waktunya antara untuk membantu orang tua, sekolah, belajar, dan mengaji. Di saat dia baru berusia 10 tahun, dia sudah khatam al qur’an, dan di saat dia berusia 13 tahun dia sudah hafal al qur’an sebanyak 10 juz.

Cintanya kepada allah swt dan nabi muhammad saw sangaaat besar sekali, dia tidak pernah lupa sholat 5 waktu serta sholat sunah nya. Dan dia tidak pernah absen untuk melakukan puasa sunah, selain itu juga dia rajin membaca al qur’an, bersholawat, dan berdzikir kepada allah.

Memang tidak banyak orang yang sifatnya seperti ahmad (namanya), karena sangat susah untuk memperkuat iman kepada allah. Tapi, sejak ahmad berusia 12 tahun dia sudah mulai memperkuat iman dimulai dengan berzikir terus menerus untuk awal permulaan menguji kesabaran manusia.
Dan tidak banyak pula orang yang berhasil dengan apa yang telah dilakukannya itu, tapi, apakah ini keajaiban dari allah? Ahmad bisa melewati semua rintangan untuk menguji kesabarannya.

Tapi sayangnya umurnya dia sangat cepat sekali, mungkin semua telah diatur oleh yang maha kuasa.. Kita sebagai manusia hanya bisa berserah diri saja.

Inilah saat terakhirku melihat kamu, jatuh air mataku menangis pilu
Hanya mampu ucapkan… selamat jalan kasih :’(

Setiap aku sedang kangen dan rindu dengan nya, aku selalu menyanyikan lagu saat terakhir. Karena lagu itu, adalah salah satu lagu kesukaannya sewaktu masih hidup. Selain itu juga, aku selalu memakai tasbih nya untuk berzikir dan aku juga memakai al qu’an nya untuk aku baca setiap hari.

Entah mengapa aku ingin sekali memakai semua barangnya (tasbih, al qur’an, sajdah) untuk beribadah. Tapi yang aku inginkan sejak aku mengenalnya, aku hanya ingin seperti dia dan hanya seperti dia. Aku tau manusia mempunyai sifat yang berbeda beda, dan apakah mungkin aku bisa mempunyai sifat yang telah dimiliki ahmad?

Cinta itu buta, dan sekarang cinta itu telah membutakan diriku.. Sampai sekarang pun aku masih terpuruk karena telah kehilangan orang yang sangat aku sayangi, cintai, dan kagumi.

Dan aku telah mencoba untuk move on darinya, dan aku mencoba untuk tidak terpuruk lagi karena kepergiannya. Tapi itu semua gagal, karena hanya sebuah tasbih yang masih menempel di pergelangan tanganku dan masih berada pada genggaman tanganku hingga saat ini.

Biarlah waktu yang akan menjawab, saat ini aku hanya bisa menjalani hari hariku di dunia dengan keadaan seperti ini..

Cinta kasihmu akan kukenang selalu
Dan cinta mu yang sangat besar untuk tuhanmu (Allah SWT) dan nabimu (Muhammad SAW) akan aku terapkan untuk remaja remaja masa kini, duhai kekasihku

========================================================================
Karangan :

  •  Fenny Fatimatuz Zahroh
Facebook :
  • Fenny zahro / Fenny fatimatuz zahroh
========================================================================

Arti Kesetiaan

“Eh Ren, Rio kayaknya naksir lo deh, samperin gih” celetuk Mita dengan tiba-tiba membuat Iren tersedak dengan es batu yang baru saja di kunyahnya. “Iya tuh Ren, dari tadi ngelirik lo terus” timpal Tami sambil melirik ke arah Rio yang sedang asyik ngobrol sama sobat cowoknya. Dipastikan kurang dari 5 menit sekali bola mata Rio berputar ke arah Iren Cs. “Ren, ini kesempatan bagus untuk mencoba ngelupain cowok lo yang lagi ada di planet lain itu” ucap Mita dengan nada yakin. Sementara Tami hanya mengangguk-angguk sambil melahap pisang aroma yang ada dalam genggamannya. “Ren, kita tuh nggak betah ngeliat lo ngelamunin pacar lo yang diculik alien itu” ucap Mita sekali lagi. Iren hanya terdiam sambil mengaduk es jeruknya yang tinggal setengah gelas. “Cakep sih cakep tapi yaaa… dia tuh kan jauh di sono Ren” tambah Tami. Iren semakin terdiam.

Sebenarnya ada gejolak marah dalam hatinya saat mendengar pembicaraan kedua sobatnya yang terus memojokkan Kak Ramon, cowok Iren. Mereka jadian saat Iren masih kelas 2 dan Kak Ramon kelas 3. Dipastikannya, itu adalah kenangan terindah dalam benak Iren. Saat dimana Kak Ramon selalu di dekatnya sambil tersenyum. Telah setahun peristiwa itu berlalu. Kak Ramon kini meneruskan kuliah di Teknik Informatika ITB Bandung. Memang kedengarannya keren sih, tapi karena itu pula Iren jadi kesepian berat. Itu karena Kak Ramon yang mulai jarang menelpon dan ponselnya juga nggak aktif. Hal itu membuat Iren cemas. “Mungkin kali aja dia udah punya cewek” celetuk Mita tiba-tiba membuat Tami menyenggol lengannya keras-keras. Memang, mendengar ucapan Mita membuat emosi Iren memuncak. Iren berdiri meninggalkan kedua sobatnya dengan tergesa, sorot matanya marah karena tersinggung.


“Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif, silahkan tinggalkan pesan.” Kalimat itu selalu mendengung nyaring saat Iren berusaha menghubungi Kak Ramon. Hal itu membuat Iren cemas. “Apa benar yang diucapkan Mita?” tanya Iren dalam hati. Mungkin Kak Ramon sudah ngelupain aku, tapi… ah nggak mungkin!!. Mungkin dia lagi sibuk. Sementara pikiran–pikiran itu berkecamuk dalam kepala Iren. Ia tidak menyadari kalau ada seorang cowok yang duduk menyandingnya. “Woi, ngelamun aja” ucap cowok itu setengah membentak membuat Iren gelagapan karena terkejut. “Apaan sih, Yo…” ucap Iren sambil menepuk lengan Rio. “Aku cuma mau bilang kalau dari tadi tuh kamu melamun teruuss” ucap Rio dengan nada berlebihan. Iren hanya terdiam kesal karena Rio telah mengganggu jam melamunnya. Lagian memangnya dari tadi Rio merhatiin aku terus, ucap Iren kesal dalam hati. Walaupun sebenarnya dalam hati Iren nggak terlalu marah saat menatap wajah Rio yang terlihat keren dengan rambut menantang langitnya. Pantas saja banyak cewek yang mengidolakan seorang Rio sama seperti kedua sobat yang dimiliki Iren. “Woiii!!! benerkan kamu tuh kerjaannya melamun aja, jangan-jangan kamu ngelamunin aku yaaa…” tebak Rio dengan percaya diri. Ihhhh please deh ngelamunin Rio, GR-ran banget sih ni anak. Mulut Iren hanya bisa komat-kamit menggumam setelah mendengar tebakan Rio yang es teh alias sok teu. “You wish” ucap Iren dengan mulut mirip ikan cucut membuat Rio ketawa ngakak. Dalam tatapan Iren tawa Rio kelihatan manis banget. Tapi tiba-tiba saja dalam pandangan mata Iren sosok Rio berubah menjadi sosok Kak Ramon. Bibir Kak Ramon yang melebar merah dengan kerutan indah di tambah dengan gigi putihnya yang rapi berjajar. Memang dulu Iren naksir berat sama Kak Ramon karena terhipnotis gaya Kak Ramon waktu ketawa. Mungkin jika wajah Kak Ramon diam ia akan terlihat dewasa dan garang tapi kalau sudah ketawa mukanya lucu… banget kayak bayi. Tawanya yang terus terlintas dalam benak Iren membuat Iren tidak bisa memikirkan cowok lain.
“Ren besok malem minggu ada acara nggak, nonton bareng yuk!!” ajak Rio dengan suara bass. Iren hanya terdiam. Ia bingung terima atau nggak. Akhirnya dalam hati Iren berniat untuk menolaknya. Iren tak mau memberi harapan kosong jika toh Rio benar-benar naksir dia. “Pokoknya kamu harus bisa” ucap Rio sambil menggenggam erat tangan Iren yang mungil. Genggaman tangan Rio terasa hangat dan membuat wajah Iren sedikit memerah. “Aku akan jemput kamu jam 7” tambah Rio. Kemudian badannya yang besar itu berbalik bergabung bersama sobat cowok yang lain sebelum memberi kesempatan Iren untuk berkata apa-apa.


“RIO NGAJAK KAMU NONTON, KEREN BANGET TUH REN JANGAN LO SIA-SIAIN” ucap tami histeris seakan baru saja menang undian keliling dunia 7 kali. “Bener kan tebakanku, ntar lagi dia bakalan nembak lo pasti. Taruhan deh…” tambah Tami. Mita yang lagi ngunyah bakso sampai kesedak karena terkejut. Hingga bakso yang akan masuk ke dalam kerongkongannya loncat ke dalam mangkok lagi. Hyeksss. “He nggak usah sekaget itu dong” ucap Tami sambil menepuk-nepuk pundak Mita perlahan. Terlihat kalau Mita berusaha berkata-kata di sela–sela batuk, membuat Iren heran. “Ren, Rio nggak kalah cakep sama Kak Ramon, nyesel lo kalo sampe lo tolak” ucap Mita. “Bener tuh, tapi kalo sampe lo tolak jangan lupa oper ke kita-kita yang dengan senang hati menerima. Barang langka.” Sambar Tami. Iren hanya terdiam karena heran mendengarkan orasi Tami dan Mita yang mengkampanyekan Rio. Memangnya Rio benar-benar naksir Iren!? Mereka terlihat amat yakin dengan membanggakan sosok Rio yang seakan Pangeran William saja.

Malam minggu tepat pukul 07.00 suara motor Tiger Rio mendengung masuk ke halaman. Seorang Iren berpakaian kasual banget takut kalau Rio GR. Make up tipis, rambut kuncrit kuda, celana jeans, dan baju kerah warna merah marun tak lupa dilengkapi dengan tas selempang hitamnya. Malem itu Rio terlihat lebih keren. Kemeja warna putih dipadu dengan celana gombrong dan parfum yang enak baunya. Mungkin jika Iren bukan tipe cewek yang cuek bebek sama cowok yang bukan miliknya, mungkin Iren akan terlarut dengan pesona Rio. “He’s perfect guys” Itu adalah bunyi dari SMS Tami yang sengaja mengingatkan Iren.

Malam minggu merupakan malam yang padat sekaligus menyenangkan. Jalanan ramai penuh dengan remaja sebaya Iren yang berpasang-pasangan. Angin malam yang berhembus dingin serta lampu-lampu jalan yang mengingatkan masa-masa saat Iren dan Kak Ramon menghabiskan malam minggu mereka. Mereka makan di pecel lele yang letaknya di pinggir jalan karena itu adalah permintaan Iren sebelum Rio mengajaknya di tempat makan romantis. Setelah kenyang mereka memutuskan untuk nonton salah satu film remaja komedi yang baru saja diputar perdana. Di mata Iren ternyata Rio anaknya asyik kalau di ajak ngomong, penggemar berat warna merah, and humoris.

Pukul 09.00 Iren sudah meminta Rio mengantarkannya pulang. Takut kemalaman. Angin malam terasa beku menerpa badan yang bergetar. Dalam saat-saat seperti ini Iren masih saja memikirkan sesosok Kak Ramon. Padahal dihadapannya ada seorang cowok yang sempurna, itu adalah pendapat para sobatnya dan kemungkinan besar ia menyukai Iren. Tetapi selalu saja bayangan wajah Kak ramon memecahkan pikiran Iren.

Motor Rio tiba-tiba berhenti di sebuah taman bermain tak jauh dari komplek perumahan Iren. “Ren aku mau ngomong bentar” ucap Rio ragu-ragu sambil melepas helmnya. Mereka berdua duduk di ayunan kosong terpisah di bawah bentangan langit yang penuh bintang. Suasana semakin hening larut akan kesunyian malam. Suara yang terdengar jelas adalah suara jangkrik dan dencitan suara ayunan. “Bintang yang indah” ucap Rio memecah keheningan dan Iren hanya membalas dengan senyuman kecil. Rio menengadah menatap langit dan kemudian menoleh menatap sepasang bola mata Iren dengan tajam. Hal itu membuat Iren sedikit grogi.
“Iren, sudah sejak dulu lo kayak bintang itu dalam tatapan mataku, mau nggak kamu jadi cewekku” ucap Rio yang terdengar jelas dengan suara bass. Iren terdiam medengar perasaan yang di utarakan Rio. “He’s handsome, he’s perfect, and extraordinary guys.” Itu pasti adalah kalimat yang bakalan diutarakan dua sobat Iren jika tahu akan hal ini. Mata Rio menatap bola mata Iren tajam. Saat bayangan Kak Ramon mulai pudar dalam pikirannya. Iren hampir menganggukan kepala. Seorang sosok Kak Ramon terlukis dengan jelas dalam bola mata Rio. Bagaimana mungkin ia akan menerima Rio jika ia masih mencintai Kak Ramon!?
“Yo… sorry di hatiku masih ada seseorang yang belum dapat aku lupakan” ucap Iren dengan suara serak. Wajah Rio tampaknya tak berubah, hanya tersenyum kecil. Iren sungguh berharap Rio bakal memahaminya. Pandangan Rio teralih menengadah ke langit yang penuh hamparan bintang.
“Yo… kamu nggak usah nganter aku, rumahku deket kok” ucap Iren tiba-tiba lalu berjalan setengah berlari sebelum Rio sempat berkata-kata untuk mencegahnya.

Langkah yang penuh keheningan di malam minggu ini membuat telapak kaki Iren terasa lebih berat. Langkah kaki yang berteman aspal licin karena basah membuat kaki harus berhati-hati. Iren menghela nafas berat nan panjang dan kepalanya menegadah menatap ke arah bintang-bintang di langit. Iren berharap dapat melihat bintang jatuh. Iren tetap pada pendiriannya dan ia yakin itu benar. Kelak pasti Rio akan mendapatkan cewek yang sempurna dan juga tulus mencintainya. Layaknya seorang anak kecil saat melihat suatu benda kecil yang berpijar melintas menuruni kaki langit, Iren ikut memejamkan mata. Iren memanjatkan sebuah permohonan. Walaupun dalam pikirannya ia tahu, itu hanyalah hal bodoh.

Langkah Iren terhenti saat matanya memandang seorang cowok yang berdiri di tengah dingin di depan gerbang rumahnya. Sesosok cowok yang sudah lamaaa banget tidak ia tatap. Iren benar-benar rindu padanya. Cowok itu dengan sabar berdiri di depan rumah Iren menunggu. Perasaan Iren senang banget… mengetahui ini bukan hanya fatamorgana. Ini kenyataan. Ia Tersenyum pada Iren.

Sekarang tubuh mungil Iren benar-benar nyaman di malam yang dingin ini. Ia berada dalam dekapan hangat cowok yang sangat dia rindukan.

=======================================================================
Karangan :
  • Yustina Rena Oktaviana
Facebook :
  • @oktarena
=======================================================================

Jumat, 02 Agustus 2013

Berawal Dari Sebuah Kebencian Aku Menemukanmu

Berawal dari suatu kebencian aku bisa mencintaimu, ya aku memang benci dengan orang Madura. Entah, aku selalu menvonis orang Madura dengan tatapan negatif. Mungkin dikarenakan di daerahku kebanyakan orang Madura yang keras wataknya dan sikapnya. Karena dasarnya aku tidak suka dikerasin. Apalagi, ketika orang tuaku menyuruhku untuk pindah pondok ke Madura. Astaghfirullah itu membuatu kaget, kaget sekali. Tapi aku tidak mau membantah keinginan orang tuaku, semua pasti terbaik buat aku. Dengan berat hati aku menjalani masa SMA di sana. Awalnya aku sering menangis karena hal itu, rasanya aku ingin pulang saja. Ya Allah kenapa mereka tega?, yang ada dibenakku hanya keinginan melarikan diri dari pesantren. Aku harus pulang kembali ke daerahku, ini bukan habitatku.

Hingga suatu hari aku berkenalan dengan salah satu teman cewek disana, dia asli orang Madura. Awalnya aku agak risih dengan logatnya, tapi setelah berteman lama dengan dia, aku merasa nyaman dengan sikap dia yang ramah tamah. Dari situ mulai aku buka sudut pandangku tentang hal itu, dan mulai aku mau berteman dengan yang lain.

Kulalui hari-hariku disana, pahit, manis terasa disana, bahkan dari sana aku menemui orang yang benar-benar aku cintai. Apakah aku kemakan omonganku sendiri?, aku mencintai dia, sangat mencintai dia, dia adalah orang yang selalu membuatku merasa menjadi ratu. Dia tak pernah membuatku menangis karena kecewa dengan sikapnya. Kemudian kami menjalin cinta, walau ku akui kita pacaran tak seperti pacaran yang dilakukan anak muda sekarang. Kami hanya bisa berpandangan dari jarak jauh, berkomunikasi lewat media telpon ketika kita libur sekolah. Anehnya, aku merasa hal itu istimewa, dari jarak jauh aku mencintaimu itu sudah cukup. Sampai suatu hari, kita secara tidak sengaja bertemu di suatu tempat, ketika aku dikunjungi oleh adikku, aku kaget sekali, kita merasa malu untuk bertatap muka. Ada hal yang paling membuatku terkesan, dia mengucap kata-kata yang sangat bermakna “Aku akan berusaha tidak menyentuhmu sampai kita halal”, subhanallah, itu adalah kata-kata yang sangat indah yang baru aku dengar. Dari situ aku yakin akan ketulusan cintanya, dia benar-benar menginginkanku mendampinginya kelak. Aku hanya terdiam mendengar kata-kata itu, dengan wajah tertunduk aku tersenyum kecil, aku merasa bahagia sekali punya dia. Tak lama kemuadian kita terpisah.

Setahun lamanya aku mengenal dia, hingga suatu ketika kita lulus, kita kuliah di tempat yang berbeda, dia di Jember, aku di Surabaya. Aku merasa berat melepasnya walau sementara, karena dia memutuskan untuk belajar di pesantren lagi, bahkan dia tidak mau membawa hp karena ingin konsen kuliah dan hafalannya. Salah satu cita-cita dia adalah ingin menjadi hafidz Qur’an, itu adalah hal yang sangat mulia bagi muslim. Dengan cita-citanya itu, aku semakin memahami dia, aku belajar kuat untuk tidak berhubungan dengan dia selama 4 tahun. Cinta kita terpisah sementara, aku yakin jika dia yang terbaik bagi aku, Allah akan mempertemukan kita walau rintangan menghadang. Yang bisa aku lakukan sekarang adalah mendoakan dia atas kesuksesan dia, dan yang aku inginkan dia menjadi imamku kelak, imam bagi aku dan anak-anakku. Amin..

=======================================================================
Karangan :
  • Mar’atus Sholihah
========================================================================

Mawar

Mawar. Begitulah panggilannya. Orang bilang, Mawar adalah bunga yang indah dan harum. Banyak orang mengagumi Mawar. Mereka, sangat menyukai dan mencintainya. Namun, aku berbeda dengan mereka. Aku sama sekali tak pernah lagi tertarik pada Mawar. Sebelumnya, aku sangat menyukai Mawar. Bahkan aku rela menjaganya agar Mawar itu tak pernah rapuh. Namun, setelah ku ketahui apa yang ada di balik Mawar, aku menjadi membencinya. Aku sangat membenci Mawar. Semuanya berawal dari sebuah kisah. Kisah di mana aku jadi membenci Mawar.

“Nas, kamu maukan jadi pacar aku?” Ucap pemuda itu penuh harap sambil menyondorkan sebuah Mawar padaku. Tingkahnya sama percis seperti seorang pangeran yang hendak melamar Cinderellanya. Dia rela menatapku lama dengan tatapan berbinar-binar. Beribu-ribu jawaban berkeliaran dan berhamburan di otakku. Banyak sekali sesuatu yang ingin aku ucapkan. Aku bingung. Kalimat mana yang akan ku ucapkan.
“Tapi, bukankah kau berpacaran dengan Meira?” Ucapku penuh tanya padanya. Diapun berdiri dari jongkoknya. Dia memandangku sama dengan tatapan sebelumnya. Tatapan berbinar-binar.
“Nasya, sudah beberapa kali aku bilang. Aku sudah putus dengannya.” Lanjutnya lagi sambil memegang tangan kananku. Diapun menyelipkan sekuntum mawar merah di sela-sela jariku. Akupun menatapnya nanar. Dia hanya mengangguk pelan. Seketika dia melepaskan genggamannya, akupun memeluk mawar itu di atas dadaku. Sesaat, dia langsung memandangku penuh pertanyaan. Sementara aku, aku hanya meniru tindakannya tadi. Mengangguk pelan. Seketika, dia langsung memelukku saat itu juga. Aku langsung membalas pelukannya bersamaan tangan kananku menggenggam mawar.
“Aku mencintaimu, Nasya,” Bisiknya di telingaku.

Hujan hari ini masih mengguyur sekitar kota. Titik air semakin lama semakin bertambah saja. Aku hanya duduk kecil menghadap jendela kamar. Melihat jalan di depanku yang cukup padat dan sorot lampu tiap kendaraan yang menerangi gemerlapnya malam seiring hujan bernyanyi.
Aku masih terduduk memandangi orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar jalanan. Dengan sebuah mawar yang menemaniku menatap cuaca malam ini, semakin betah saja. Walau perasaan ngantuk mulai menyeruak sela-sela kelopak mataku. Tapi, aku masih terdiam di sini bersama Mawar pemberian Wendi kemarin. Aku masih dapat merekam jelas tiap-tiap detik berharganya Wendi menyatakan cintanya padaku. Baru kali ini, aku di tembak seseorang secara langsung. Tanpa via SMS ataupun menelepon. Atau lewat surat dan surel.
Wendi memang pria yang percaya diri. Badannya tinggi mungkin setinggi pintu. Dia juga memiliki wajah yang bisa di bilang lumayan. Cukup banyak gadis yang menginginkannya. Tapi aku belum terlalu tahu, apakah dia pria baik-baik atau bukan. Meskipun begitu, aku tetap percaya padanya.
Tetes-tetes air yang terjatuh dari tadi kini mulai kehabisan peserta. Sekarang, hujan tak terlalu mengguyur lalu lintas Jakarta ini. Walau kemarin-kemarin daerah ini di landa banjir, namun, hujan saat ini tak memberikan dampak buruk sama sekali pada keadaan di kota ini. Seketika aku betah memandang hujan dan lalu lintas yang saling bergantian, tiba-tiba aku tercengang melihat seorang pria bersama gadis naik motor bersama. Aku dapat tahu jelas siapa mereka. Ya, Wendi dan Desi. Tunggu, mengapa Wendi mebonceng Desi dengan sepeda motornya? Ada apa ini?
Kuputuskan untuk mencoba menghubunginya.
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif cob..”
“Tet.” Akupun mengakhiri panggian tersebut. Nomor Wendi tak aktif. Apa benar dia sedang bersama Desi. Apakah dia playboy? Arghh, mulai lagi ribuan pertanyaan itu merasuk benakku. Apa benar semua ini.
Kini aku hanya terdiam menatap lagit gelap tanpa gemerlap bintang. Gurauan angin malam membelai lembut tirai kamarku yang kebetulan ku bukakan jendelanya. Seketika itu, ponselku berdering. Akupun meraih benda kecil itu. Terlihat Wendi menghubungiku. Tadi, dia tak aktif. Sekarang dia menghubungiku. Akupun membiarkan ponselku itu berdering. Sekejap saat ku palingkan wajahku menuju jalanan luar lagi, ku lihat Wendi berjalan menuju gerbang rumahku. Dia memakai payung hitam dengan ponselnya tertempel di telinganya. Dia menatap ke atas. Tepatnya ke arahku. Diapun mematikan panggilannya dan memasukan ponselnya ke dalam saku jaketnya. Akupun turun dan mengambil payung bermaksud menghampirinya.
“Mengapa kau tak mengangkat teleponku?” Tanyanya dari luar gerbang. Aku masih berdiri di iringi rintik hujan yang masih berjatuhan di malam ini.
“Aku, aku tak mendengar deringannya.” Ucapku berbohong padanya sambil masih mematung di depan pintu gerbang. Karena aku tahu, pintu gerbangku sudah di kunci dan kuncinya terdapat di Pak Dede. Aku bisa dimarahi jika meminjam kuncinya.
“Aku hanya ingin memberikanmu ini. Mawar kemarin mungkin sudah rusak. Kau bisa menggantinya dengan ini.” Ujarnya seraya tersenyum dan menyondorkan mawar itu padaku lewat sela-sela gerbang. Akupun dengan sedikit ragu menerimanya.
“Thanks ya, kamu rela ujan-ujanan cuma buat ngasih mawar ini. Padahal mawar yang kemarin masih ku simpan. Masih sedikit utuh. Kamu bisa lihat, di pinggir jendela.” Ucapku manis seraya membalas senyumannya.
“Hahah, jaga yang baik ya sayang mawarnya. Itu tanda cinta kita.”
“Haha, iya aku jaga. Maaf ya, kamu diem di luar gini. Gak aku izinin masuk. Gerbangnya udah di kunci sama Pak Dede, nanti aku kena marah. Kamu sih, datang ke sini malam-malam.” Ujarku padanya. Dia hanya tersenyum tipis padaku.
“Iya gak papa. Ya udah, kamu tidur dulu aja. Sekarang udah malem. Besok mau sekolah kan? Aku pulang dulu ya sayang. Byee muahh.” Ucapnya seraya melambaikan tangan dan berlalu dari hadapanku. Akupun terus memandangnya sambil memegang mawar hingga aku tak dapat lagi melihat bayangannya. Setelah itu, barulah aku masuk kamar ku lagi. Akupun masih belum tidur dan terus memandangi mawar itu. Di depan jendela. Ternyata Wendi adalah pria yang sangat perhatian sekali.
“Tuutt.. tutt..” Tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk ke ponselku.
“From: Wendi
Tidur dulu sayang. Mawarnya simpen dulu. Nanti besok kalo kamu kesiangan gimana? Tidur ya, cepet:* .” Begitulah isinya. Akupun segera membalasnya dengan perasaan riang.
“To: Wendi
Ya udah deh sayang. Aku simpen mawarnya ya. Mau tidur dulu. Eh kamu juga jangan lupa tidur sayang udah malem.”
Setelah ku balas pesan tersebut, akupun menutup jendela kamarku. Ketika hendak ku rebahkan tubuh di ranjang, ku lihat balasan terakhir Wendi malam ini.
“From: Wendi
Iya ini mau sayang. Have a nice dream babe.”
Hari ini aku pulang sendirian. Tadi di sekolah aku memang terus berduaan bersama Wendi ketika istirahat. Berhubung, kelas kami memang letaknya jauh karena berbeda kelas. Dan aku tak pulang bersamanya karena dia sedang ekskul. Basket tepatnya.
Aku melangkahkan kakiku pelan ke setiap tanah yang ku injak. Memang jarang aku berjalan seperti ini. Biasanya pulang berangkat selalu di antar jemput oleh Pak Dede. Tapi sekarang, aku sudah bilang padanya agar tak perlu menjemputku.
Suasana siang ini cukup bersahabat denganku. Tak terlalu memanas. Dapat ku lihat kicauan burung dan irama angin bergantian satu per satu. Seiringan dengan langkahku menambah suasana semakin tenang. Kebetulan sekarang aku melewati taman kota. Di sini memang cukup ramai. Walau rumahku tak terlalu jauh dari taman ini, tapi aku jarang berkunjung. Paling aku hanya menatapnya dan melewatinya. Sebatas itu saja. Sekarang sepertinya aku ingin sekali melemparkan bokongku ke salah satu bangku taman ini. Apalagi sambil melihat-lihat mawar. Hmm..
Akupun berniat untuk duduk di salah satu bangku di sana. Mulai ku pandang sekeliling tempat ini. Penuh dengan tanaman. Akupun beranjak mendekati sebuah tanaman mawar di sana. Dapat jelas ku cium aroma harum mawar. Akupun mendekatinya dan mencium bunga tersebut.
“Harum.” Desahku sambil tersenyum.
“Tentu saja harum. Sebagaimana aku. Hahah.” Sebuah suara yang tak asing tiba-tiba merasuk kupingku. Akupun sedikit membalikkan badan bermaksud menengok siapa yang berucap itu.
“Wendi?” Tanyaku heran plus bingung melihat wajah kekasihku ada di depanku.
“Hahah, panik banget si sayang. Iya ini aku Wendi.” Jawabnya sambil menunjuk wajahnya sendiri. Akupun tersenyum simpul padanya. Terlihat tangannya menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya.
“Kau menyembunyikan apa?” Tanyaku sambil sedikit melongo ke arah tangannya. Dia hanya sedikit melirik ke arah belakang.
“Tak ada apa-apa.” Ujarnya berbohong. Akupun menengok ke arah belakang Wendi. Namun dia menggeserkan posisinya.
“Sudahlah aku tahu apa yang kau bawa. Mawarkan?” Tanyaku dengan mata memandangnya. Diapun tertawa.
“Haha, pacarku ini pandai sekali. Nih.” Diapun memberikan mawar itu padaku. Aku menerimanya lalu mengusap ujung-ujung kelopak bunganya. Diapun mengacak-acak rambutku.
“Ih, kamu!”
Hujan sore tadi masih menyisakan bekas genangan air di pinggir jalanan. Angin dingin masih menyeruak berlarian di tengah suasana yang kurang mendukung ini. Aku masih terduduk lesu di depan jendela kamarku. Terlihat 9 buah mawar berjejeran di samping kanan dan kiriku. Tepatnya 4 di samping kanan dan 4 lagi di samping kiri. Sedangkan mawar yang satunya lagi ada di depanku. Mawar ini adalah mawar terbaru yang Wendi beri padaku. Sisanya ada yang tinggal batang saja, ada yang sudah rapuh dan ada yang hampir rapuh.
Semua mawar itu adalah mawar dari Wendi. Tapi akhir-akhir ini, Wendi jarang menampakkan bayangannya di hadapanku. Dia juga sudah tak memberiku mawar lagi. Entah kemana dia? Aku hubungipun dia tak aktif. Ku coba datang ke rumahnya selalu tak ada. Jika aku datang ke kelasnya dia selalu menyuruhku untuk kembali menuju kelasku. Entah kenapa Wendi jadi begini. Seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku. Apakah dia punya simpanan lain? Atau dia menjauhiku karena dia sakit seperti di film dan drama-drama? Hmm.. Kembali lagi pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab itu menyeruak ke dalam pikiranku. Jika aku memikirkan Wendi, selalu ku coba untuk tetap memikirkan yang positif saja tentangnya. Bagaimana lagi? Aku sudah terlalu mencintai Wendi.
Mulai ku raih mawar terakhir yang Wendi beri padaku. Aku memegang batangnya. Akupun menggenggamnya keras dan..
“Aww.” Jariku terkena duri mawar itu. Langsung ku lihat jari telunjuk kananku. Berdarah. Segera akupun menuju wastafel untuk mencuci lukaku. Rasanya sedikit pedih. Langsung ku turun untuk membawa obat lukaku ini. Lalu ku perbani. Ini sedikit sakit.
Akupun kembali lagi menuju kamarku. Menatap langit mendung malam ini. Walau hanya sorot lampu tiap rumah yang mewarnai cerahnya malam ini. Sekarang, tak terlalu banyak kendaraan yang berlalu lalang. Mungkin karena jalanan licin dan sangat basah. Hujan memang sudah sedikit reda, tapi hujan di hatiku belum juga kunjung tamat.
“Apakah Wendi akan seperti Mawar? Dia akan tetap harum dan indah? Tapi dia rapuh karena memiliki suatu? Apakah itu penyakit? Seperti dalam drama, seorang pacarnya rela menjauhi kekasihnya agar dia tak tahu jika dia mempunyai suatu penyakit. Jika seandainya dia seperti itu, aku akan tetap mencintainya.” Desahku sendiri sambil menatap sekitar jalanan yang basah. Aku masih terdiam terpaku di depan jendela kamarku berharap keajaiban terjadi. Berharap Wendi tiba-tiba datang dan memberiku mawar. Mimpi aku.
Seketika, aku beranjak dari dudukku dan menutup jendela. Aku bermaksud melemparkan tubuhku ke kasur. Aku sudah mengantuk.
Mawar merah ini harum sekali. Seharum dan seindah Wendi. Dia indah sekali bagiku. Walau aku masih terduduk dan berharap Wendi datang lagi, tapi aku akan tetap percaya bahwa cerita ini akan berending bahagia. Begitulah.
Memang sudah 2 minggu ini tak ada komunikasi antara aku dan Wendi lagi. Bertemupun sudah tidak. Hubunganku dengannya sudah rumit. Aku tak mengerti dengan sikap Wendi yang tiba-tiba cuek seperti ini. Apakah dia benar-benar merahasiakan sesuatu di balik semua ini? Jika i ya, apa?
Akupun menyimpan mawar merah itu di bangku taman ini. Akhir-akhir ini aku merasa sedikit galau. Taman ini cukup bisa mencairkan rasa galauku. Jadi, aku sering berkunjung ke sini.
Seketika aku menyimpan mawarku, akupun beranjak bangun dan berjalan-jalan sekitar kota. Ku tinggalkan mawar itu di bangku taman. Akupun meninggalkan bayanganku di sana. Daripada aku masih terduduk di sana sambil menunggu sesuatu yang mungkin tak akan datang, lebih baik aku berjalan-jalan.
Seketika aku sedang enak berjalan, dari kejauhan aku melihat 2 sosok insan yang tak asing di mataku. Wendi dan Desi. Aku melihatnya jalan berdua. Beberapa minggu lalu, aku melihatnya naik motor bersama. Sekarang berjalan. Apa mereka ada hubungan selain berteman?
Akupun bermaksud menghampiri mereka yang tengah bercanda tawa.
“Wendi!” Seruku padanya. Wendipun sedikit melirik ke arahku.
“Nasya, mau apa kamu?” Tanyanya sedikit ketus padaku. ‘Ketus’? Seperti itukah seoarang kekasih bertindak?
“Sayang mengapa kau berjalan dengannya?” Tanyaku sedikit polos pada Wendi. Seketika itu, Desi langsung melirik ke arahku.
“Kau bilang sayang pada siapa? Bukankah kalian sudah putus?” Deg. Satu kalimat dari mulut Desi terucap begitu saja. Seketika petir itu menyambar terlalu keras sehingga membuat rubuh hatiku. Saat itu, perkataan Desi benar-benar membuat hancur hatiku ini.
“Maksudmu apa?”
“Sudahlah sayang. Dia hanya masih mengharapkanku saja. Yuk jalan lagi. Biarkan saja dia!” Jleb. Sekarang perkataan Wendi yang terlalu tajam. Dia terlalu menusukku dengan kata itu. Apa maksudnya mengharapkan? Bukankah dia belum bilang putus sama sekali. Apakah seperti ini Mawar bertindak?
Saat itu juga, hanya tinggal aku sendiri terpaku di pinggir jalanan sana. Kakiku terasa kaku sekali untuk melangkah. Bibirku kelu untuk berucap. Dan mataku lemah untuk menahan bendungan air mata ini. Hatiku rasanya robek saat ini juga. Aku kira Wendi adalah pria baik. Tapi ternyata dia sangat jauh dari dugaanku.
Sekarang, angin mulai menyeruak menerbangkan rambut gemulaiku. Hati dan perasaanku lemah sekali saat itu. Dan yang aku bisa hanyalah MEMATUNG.
Kemarin, aku baru saja mendengar cerita dari Meira. Dia bilang, Wendi memang pria seperti itu. Dia melakukan hal yang sama pada Meira seperti yang dia lakukan terhadapku. Sadis!
Aku sangat merasa bersalah pada Meira karena menerima cinta Wendi saat itu. Aku sangat menyesal pernah bercinta dengannya.
Dan kini, aku mengerti. Mengapa Wendi melambangkan dirinya seperti mawar?
Karena, mawar itu harum dan indah seperti dia. Namun, di balik semua itu, mawar memiliki duri yang bisa menyakiti kita sendiri bila mendekatinya. Dan Wendi, semakin aku mendekatinya, semakin ku tertusuk durinya.
Karena itulah aku BENCI Mawar.

========================================================================
Karangan :
  • Selmi Fiqhi


Facebook :

========================================================================